Selasa, 06 Januari 2009

Global Warming, Global Warning!!


Ngelihat film “The Day After Tomorrow” (yang sebenernya udah sering aku tonton) aku jadi keinget masalah global warming yang harusnya diinget terus untuk kemudian dilakukan tindakan. Bumi saat ini udah semakin panas, panas disini bukan maksudnya tambah keren tapi bener-bener panas. Lapisan Ozon di atmosfir udah semakin tipis dan efek rumah kaca semakin dirasakan. Diramalkan pada beberapa tahun ke depan kejadian yang ada di film “The Day After Tomorrow” bakalan bener-bener terjadi. So, this movie is no longer science fiction.

Beberapa waktu yang lalu aku sempet pula menonton film dokumenter Al Gore tentang bahaya Global Warming, “An Inconvinient Truth“. Dari film itu maka bulu kuduk penontonnya akan dibuat bergidik oleh kenyataan-kenyataan yang dipaparkan mengenai kondisi bumi kita saat ini. Berbeda dengan “The Day After Tomorrow” film ini bukan fiksi ilmiah, tapi adalah fakta ilmiah. Al Gore menyatakan bahwa bumi saat ini sudah rusak, penampakan bumi pada tahun 80an bahkan tidak sama lagi seperti saat ini. Begitu banyak es kutub yang mencair, spesies yang punah, dan pencemaran lingkungan yang terjadi. Hal-hal itu memacu perubahan iklim yang perlahan-lahan mulai terasa. Al Gore mengibaratkan perubahan iklim itu dirasakan manusia seperti katak yang direbus di dalam tungku yang dipanaskan perlahan-lahan. Pada awalnya perubahan iklim ini tidak dirasakan sampai akhirnya sudah terlambat untuk menyadarinya.


Global warming (pemanasan global) pada dasarnya adalah peningkatan suhu rata-rata dari atmosfer, laut dan dataran bumi. Fenomena ini terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (Uap air, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, dll) di atmosfer. Meningkatnya gas-gas tersebut menimbulkan efek yang disebut efek rumah kaca, yaitu proses dimana atmosfer memanaskan sebuah planet. Prosesnya adalah ketika radiasi panas matahari memasuki permukaan bumi melalui atmosfer, oleh permukaan bumi dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun tidak semua radiasi ini dikembalikan ke luar angkasa, akan tetapi atmosfer menghambat sebagian radiasi sehingga tertahan diantara atmosfer dan permukaan. Pada keadaan normal, efek rumah kaca dibutuhkan bumi agar temperatur bumi tetap terjaga pada malam hari ketika matahari tidak lagi menyinari bumi. Akan tetapi meningkatnya efek rumah kaca menimbulkan akibat yang parah, yaitu bumi menjadi semakin panas.

Begitu banyak kegiatan manusia yang tidak ramah lingkungan. Membuang emisi gas yang beracun (gas rumah kaca), menebang pohon-pohon (yang sebenarnya dapat menetralisir emisi gas beracun) di hutan-hutan seluruh penjuru dunia dan penggunaan bahan-bahan yang mampu meracuni bumi (laut, tanah, dan udara). Peningkatan panas bumi saat ini mencapai 0,1-0,7 derajat celsius dalam 100 tahun terakhir. Bagi orang yang optimis mungkin angka ini terlihat kecil, tapi dampaknya sangat mengerikan. Cuaca yang berubah-ubah secara ekstrim, bencana alam yang sering terjadi, pulau-pulau yang mulai tenggelam karena naiknya permukaan laut, juga curah hujan yang tinggi. Keadaan ini akan semakin parah dari tahun ke tahun, sehingga suatu saat bumi tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Nasib manusia dan mahluk bumi lainnya telah ada di ujung tanduk karena sementara ini hanya ada satu bumi untuk ditinggali.


Banyak reaksi yang dialamatkan untuk mencegah efek dari pemanasan global untuk tidak menjadi semakin parah. Salah satunya adalah Protokol Kyoto yang disetujui oleh sebagian besar negara di dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu ada juga Konfrensi Pemanasan Global di Bali bulan Desember 2007 lalu. Akan tetapi semua ini hanya akan berakhir sebagai perjanjian konyol saja bila tidak ada tindakan lebih lanjut untuk menyelamatkan bumi dari masing-masing individu. Oleh karena itu sebaiknya setiap individu menyadari dengan sungguh-sungguh untuk bahwa bumi sedang dalam bahaya dan memerlukan perawatan. Salah satunya yang bisa dilakukan adalah:

  1. Menghemat kertas - Selembar kertas mungkin mewakili sebatang pohon yang ditebang di hutan-hutan penjuru dunia. Semakin sedikit pohon yang tersisa maka penetralisir gas rumah kaca semakin hilang, akibatnya atmosfer bumi akan semakin tebal oleh gas tersebut.
  2. Mengurangi emisi gas rumah kaca - Jangan gunakan mobil maupun kendaraan bermotor lainnya bila memungkinkan, budayakan bersepeda yang selain lebih sehat juga ramah lingkungan. Sementara ini bahan bakar kendaraan bermotor masih menghasilkan buangan gas yang beracun bagi bumi.
  3. Hemat listrik, dengan menghemat listrik maka akan semakin sedikit bahan bakar yang diperlukan untuk menghidupkan generator pembangkit listik. Beberapa pembangkit listik masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai tenaga pembangkitnya.

Itu adalah contoh kecil dari usaha penyelamatan bumi. Semakin kita memikirkan dampak dari perbuatan yang kita lakukan bagi kesehatan bumi, maka kita akan semakin sadar untuk lebih menyayangi bumi. Masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi. Saat ini mungkin bumin telah sakit parah, akan tetapi kita masih bisa mencegah untuk tidak semakin parah. Yang aku lakukan saat ini hanyalah menjadi penyambung lidah para penyelamat bumi. Mungkin beberapa pembaca sudah bosan atas pesan-pesan anti global warming. Tapi hanya itulah yang bisa manusia lakukan untuk tetap bisa tinggal di bumi yang memang hanya satu-satunya ini. Menyelamatkan bumi harus dimulai dari diri sendiri.

Sebagai bahan renungan saksikan juga film dokumenter terbaru “Earth” yang soundtracknya dibawakan dengan apik oleh Anggun berjudul “World”, dengerin sountracknya disini.

Lebih lanjutnya kunjungi:
Greenpeace Indonesia

Guru Perlu Penanaman Cinta Lingkungan

GREEN SCHOOL
Guru Perlu Penanaman Cinta Lingkungan
Jumat, 26 Desember 2008 | 00:46 WIB

Yogyakarta, Kompas - Penanaman cinta lingkungan kepada murid akan lebih mudah dilakukan apabila guru juga berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, penanaman rasa cinta lingkungan perlu dilakukan terhadap guru terlebih dahulu.

Anggota Lembaga Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Bakti Setiawan, mengatakan, rasa cinta lingkungan perlu ditumbuhkan agar guru mempunyai niat dan sikap yang konsisten dalam mempraktikkan pendidikan berwawasan lingkungan. ”Wawasan lingkungan terhadap guru salah satunya ditumbuhkan dengan pemberian pengetahuan tambahan di bidang lingkungan hidup,” katanya dalam Workshop Green School di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Rabu (24/12).

Hadir pula dalam lokakarya ini 50 perwakilan dari guru, dinas pendidikan, dan pemerhati masalah lingkungan. Kepala SD Muhammadiyah Pakel Hadi Nuryanto mengatakan, penanaman cinta lingkungan perlu diprioritaskan kepada guru pendidikan tingkat dasar. Pasalnya, penanaman cinta lingkungan akan lebih efektif jika dilakukan pada usia dini.

Selain itu, guru juga perlu memperoleh dukungan dari sistem pendidikan. Dukungan ini dapat berupa kurikulum dan sarana pembelajaran yang sesuai. Lingkungan sekolah harus dibuat asri agar bisa menjadi media pembelajaran bagi murid.

Direktur MTs dan MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Fauzi Tri Astuti mengungkapkan, rendahnya kesadaran lingkungan pada sejumlah warga sekolah masih kerap menjadi kendala dalam mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan. ”Contoh lebih efektif dari kampanye apa pun,” ujarnya. (IRE)

REMAJA CINTA LINGKUNGAN

Remaja Cinta Lingkungan

Cinta lingkungan butuh lebih dari sekedar niat. Memang ikut organisasi pecinta alam atau jadi donator kelompok cinta lingkungan bisa menunjukkan kalo kita memang respek dengan kondisi alam yang makin kritis. Tapi yang lebih penting adalah prakteknya. Sebenarnya nggak susah, hanya butuh kedisiplinan kita aja. Jadi kalo sudah ada niat, boleh deh dicoba usaha-usaha ini :

- Tunjukkan kecintaan kita terhadap air dengan memakainya sehemat mungkin. Mandi dengan shower lebih bagus ketimbang memakai bak atau bath up, karena air yang dipakai hanya yang diperlukan saja.

- Lihat dan hitung deh berapa banyak pohon yang kita tanam di taman atau kebon rumah? Semakin banyak pohon semakin bagus. Pohon selain dapat menyimpan air di dalam tanah juga bisa menyaring polusi udara karena asap mobil dan menghasilkan gas oksigen lebih banyak.

- Hemat kertas. Ini paling mudah banget. Dengan menghemat pemakaian kertas berarti kita juga mengurangi jumlah pohon yang musti ditebang buat bahan dasar kertas. Coba deh untuk mulai menggunakan kertas dari bahan daur ulang. Kalau bisa gunakan kertas secara bolak-balik. Bayangkan berapa kertas yang bisa dihemat kalau kita mencetak 20 halaman.

- Pilih bahan ramah lingkungan. Sikap protes kita kepada para pabrik yang menghasilkan limbah bisa disalurkan lewat pemilihan barang yang kita pakai. Tinggal cek saja di kardus apakah produk tersebut mengandung freon (lemari es, ac), busa limbahnya sulit terurai oleh alam (sabun, shampo) atau memakai hewan yang sudah hampir punah (obat, baju, kosmetik). Nah kalo iya, gak usah bingung, tinggalkan saja dan pilih produk lain

Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup melalui Dunia Pendidikan

Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup melalui Dunia Pendidikan

Dulu, Indonesia dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis katulistiwa yang ditamsilkan ibarat untaian zamrud berkilauan sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan, tongkat dan kayu pun, menurut versi Koes Plus, bisa tumbuh jadi tanaman yang subur.

Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.

Mengapa bencana demi bencana terus terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup? Bukankah Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional telah membangun kesepakatan bersama tentang pendidikan lingkungan hidup? Namun, mengapa korban-korban masih terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir? Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa?

Saat ini agaknya (nyaris) tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.

Sebenarnya kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal nenek moyang kita tentang bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski secara teoretis mereka buta pengetahuan, tetapi di tingkat praksis mereka mampu membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya. Masyarakat Papua, misalnya, memiliki budaya dan adat istiadat lokal yang lebih mengedepankan keharmonisan dengan alam. Mereka pantang melakukan perusakan terhadap alam karena dinilai bisa menjadi ancaman besar bagi budaya mereka. Alam bukan hanya sumber kehidupan, melainkan juga sahabat dan guru yang telah mengajarkan banyak hal bagi mereka. Dari alam mereka menemukan falsafah hidup, membangun religiositas dan pola hidup seperti yang mereka anut hingga kini. Memanfaatkan alam tanpa mempertimbangkan eksistensi budaya setempat tidak beda dengan penjajahan. Namun, sejak kedatangan PT Freeport Indonesia, keharmonisan hubungan masyarakat Papua dengan alam jadi berubah. Saya kira masih banyak contoh kearifan lokal di daerah lain yang sarat dengan pesan-pesan moral bagaimana memperlakukan lingkungan dengan baik.

Namun, berbagai peristiwa tragis akibat parahnya kerusakan lingkungan sudah telanjur terjadi. “Membangun tanpa merusak lingkungan” yang dulu pernah gencar digembar-gemborkan pun hanya slogan belaka. Realisasinya, atas nama pembangunan, penggusuran lahan dan pembabatan hutan terus berlangsung. Sementara itu, hukum pun makin tak berdaya menghadapi para “bromocorah” lingkungan hidup yang nyata-nyata telah menyengsarakan jutaan umat manusia. Para investor yang nyata-nyata telah membutakan mata dan tidak menghargai kearifan lokal masyarakat setempat justru dianggap sebagai “pahlawan” lantaran telah mampu mendongkrak devisa negara dalam upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.

Meskipun demikian, hanya mencari “kambing hitam” siapa yang bersalah dan siapa yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup bukanlah cara yang arif dan bijak. Lingkungan hidup merupakan persoalan kolektif yang membutuhkan partisipasi semua komponen bangsa untuk mengurus dan mengelolanya. Pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), semua warga masyarakat, dan komponen bangsa yang lain harus memiliki “kemauan politik” untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan hidup dari ulah tangan jahil para preman dan penjahat lingkungan. Hal itu harus dibarengi dengan tindakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup yang nyata-nyata telah terbukti menyengsarakan banyak umat manusia. Pedang hukum harus benar-benar mampu memancung dan memenggal kepala para penjahat lingkungan hidup untuk memberikan efek jera dan sekaligus memberikan pelajaran bagi yang lain.

Yang tidak kalah penting, harus ada upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia pendidikan. Institusi pendidikan, menurut hemat saya, harus menjadi benteng yang tangguh untuk menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat perlu terus digali dan dikembangkan secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis dan dogmatis seperti orang berkhotbah, tetapi harus lebih interaktif dan dialogis dengan mengajak siswa didik untuk berdiskusi dan bercurah pikir melalui topik-topik lingkungan hidup yang menarik dan menantang.

Lingkungan hidup yang disemaikan melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi disajikan lintas mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang relevan. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab guru Geografi atau IPA saja, misalnya, tetapi harus menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran.

Mengapa budaya cinta lingkungan hidup ini penting dikembangkan melalui dunia pendidikan? Ya, karena jutaan anak bangsa kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang kelak akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dan itu harus dimulai sekarang juga. Depdiknas yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan harus secepatnya “menjemput bola” agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Nah, bagaimana? ***